
The Learning Paradox, Mengapa Belajar Terasa Sulit
Perubahan dunia kerja akan selalu terjadi tanpa ada aba-aba. Perusahaan yang ingin bertahan harus memastikan karyawannya mau terus belajar, berkembang, dan tanggap terhadap perubahan. Hanya saja, banyak program pelatihan justru tidak memberikan hasil nyata karena mungkin bagi beberapa karyawan pelatihan tersebut hanyalah formalitas semata, sekadar menambah pengetahuan tanpa mengubah perilaku. Mungkin kita sedang merasakan the learning paradox.
Apa itu The Learning Paradox?
The Learning Paradox membahas bagaimana pembelajaran sejatinya memerlukan kesalahan, karena kesalahan memberikan umpan balik yang esensial untuk memahami struktur masalah secara mendalam. Akan tetapi banyak orang ingin mahir secara instan tanpa pernah melakukan kesalahan, sehingga mereka tidak pernah belajar.
Karyawan ingin berkembang, tapi mereka juga ingin tetap berada di zona nyaman. Karyawan ingin naik level, tapi takut gagal. Padahal belajar itu memang bukan jalan mulus tanpa lubang. Kadang harus terperosok dulu baru paham di situ ada lubang.
Banyak karyawan ingin belajar, tetapi menghindari proses yang menantang. Mereka ingin instruksi lengkap, panduan jelas, dan langkah pasti. Sayangnya, model demikian jarang menciptakan pemahaman mendalam. Kita memahami “apa” yang harus dilakukan, tetapi tidak benar-benar memahami “mengapa” dan “bagaimana”.

Cara mengatasinya
Solusinya mungkin dengan memahami konsep productive failure untuk memberi perspektif berbeda, seperti yang dibahas oleh Manu Kapur dalam bukunya. Ketika peserta pelatihan diberi ruang untuk mencoba, gagal, berdiskusi, dan mengevaluasi, mereka membangun mental model yang lebih kuat. Hasil riset Manu Kapur konsisten menunjukkan bahwa pembelajaran seperti ini lebih tahan lama dan lebih mudah diterapkan dalam konteks nyata.
Pendekatan ini selaras dengan game-based learning yang selalu ditawarkan oleh Kummara, di mana semakin banyak perusahaan swasta ataupun BUMN merasakan manfaatnya. Melalui permainan, peserta bukan hanya memahami teori, tetapi juga melihat dampak keputusan mereka dalam simulasi nyata. Mereka belajar mengelola risiko, membuat strategi, berkolaborasi, beradaptasi, memecahkan masalah hingga mampu membuat keputusan di saat genting. Semua skill tersebut sangat dibutuhkan di perusahaan masa kini, dan mungkin wajib dimiliki setiap leaders.
Game-based learning juga memberikan keuntungan strategis: feedback instan, engagement tinggi, dan pembelajaran yang lebih hemat waktu. Dengan repetisi yang jauh lebih sedikit dibanding metode tradisional, karyawan bisa mencapai tingkat pemahaman yang lebih dalam secara lebih efisien.
Pelajari game-based learning program dari Kummara untuk membantu menumbuhkan karyawan di perusahaan Anda. Lihat programnya di sini: https://kummara.com/workshop