
Learning Ecosystem
Satu hari kami mendarat di Labuan Bajo untuk kunjungan singkat. Setibanya di penginapan, yang kebetulan juga memiliki cafe yang nyaman, nona Kiriya, 10 th – putri saya, membuka tabletnya untuk kemudian belajar dalam salah satu sesi kelas onlinenya. Di meja lain, Saya juga terlibat dalam sebuah sesi diskusi untuk mendorong transformasi pembelajaran di salah satu perusahaan multinasional. Ditemani aroma kopi Flores yang khas dan juga Kompiang Lejong yang lezat , kami masuk dan menikmati proses belajar. Saya dan Kiriya masuk ke dalam Learning Ecosystem kami masing-masing.
Kami di Kummara.com memetakan bahwa sebuah learning ecosystem terdiri dari empat komponen utama:
1. Learning Actors (fasilitator, mentor, guru, peserta, semua pihak yang terlibat)
2. Learning Process (proses pembelajaran itu sendiri)
3. Learning Infrastructure/Tech (infrastruktur dan teknologi yang mendukung pembelajaran)
4. Learning Environment (lingkungan tempat pembelajaran berlangsung).
Dalam situasi di atas, kami berperan sebagai learning actors: Kiriya sebagai peserta dan saya sebagai fasilitator/mentor, menikmati learning process (secara online) dengan memanfaatkan learning tech (laptop, internet, dan aplikasi pendukung) di sebuah learning environment (virtual di zoom dan ruangan cafe di Labuan Bajo).
Ke-empat elemen tersebut penting dan saling mendukung satu dengan yang lain. Namun, jika kita memiliki sumber daya yang terbatas dan harus memilih, dari mana sebaiknya kita harus memulai?
Keberhasilan LMS Tergantung Pada Engagement?
Banyak perusahaan/organisasi —memilih untuk fokus terlebih dahulu pada penyediaan learning infrastructure/tech dan learning environment, dengan harapan bahwa kualitas learning actors dan learning process akan meningkat sejalan dengan peningkatan kualitas kedua komponen tersebut. Ini yang sepertinya mendorong banyak perusahaan menginvestasikan jutaan rupiah untuk membangun Learning Management Systems (LMS) canggih atau menciptakan ruang belajar lengkap dengan semua fasilitas pendukungnya. Namun, hasilnya sering kali tidak sesuai harapan.
Sebuah studi tentang efektivitas LMS menunjukkan bahwa keberhasilan LMS sangat bergantung pada sejauh mana platform tersebut mampu melibatkan para aktor: pengajar/fasilitator dan peserta didik, dan mendukung kebutuhan mereka (1). Jika LMS tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan kontekstual dan individu peserta didik, maka teknologi tersebut sulit memberikan dampak signifikan. Ini sepertinya yang sering kita temui.
Pandemi juga mengajarkan kita pelajaran penting bahwa perkembangan teknologi yang ada telah memungkinkan akses teknologi pembelajaran menjadi semakin mudah. Teknologi juga memungkinkan kita untuk belajar dari mana saja. Sehingga Learning Environment tidak lagi terbatas pada ruang training, atau kampus. Kita kemudian disadarkan bahwa ruang belajar yang megah bukanlah faktor penentu keberhasilan pembelajaran . Yang paling menentukan adalah bagaimana para aktor (pengajar dan peserta didik) terlibat dalam proses pembelajaran dan apakah proses tersebut dirancang untuk memotivasi serta melibatkan mereka secara aktif.
Apakah ini berarti teknologi dan lingkungan belajar tidak penting? Tentu saja bukan. Tapi kita ketika kita memiliki sumber daya yang terbatas untuk kemudian memilih 1-2 komponen untuk kita prioritaskan maka memulai dengan investasi pada learning infrastructure/tech atau learning environment sepertinya bukan langkah yang tepat.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa proses belajar yang melibatkan pengetahuan kontekstual atau masalah nyata dan berbasis pengalaman jauh lebih efektif dibandingkan hanya fokus pada proses belajar yang berfokus pada upaya mengumpulkan informasi dari berbagai media semata (2,3). Ini menunjukkan bahwa ketika kita memprioritaskan peserta didik serta proses belajar yang tepat hasilnya menjadi lebih bermakna dan relevan bagi mereka.
Jika kita berkaca pada sejarah bangsa ini, para pendiri negara kita juga meyakini bahwa pendidikan adalah kunci untuk menuju kemajuan. Namun, mereka tidak memulai dengan befokus membangun gedung sekolah megah atau teknologi paling canggih pada jamannya. Mereka memulai dengan fokus pada para aktor yang terlibat (khususnya guru dan peserta didik) dan proses pembelajaran yang dihadirkan. Berfokus pada nilai-nilai yang diyakini mampu memberdayakan —menginspirasi masyarakat untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi demi mencapai tujuan bersama. Pendekatan ini terbukti berhasil membawa bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan (4).
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi saat ini, sudah saatnya kita merefleksikan prioritas kita. Alih-alih hanya berfokus pada learning infrastucture/tech atau learning environment, kita perlu benar-benar memprioritaskan investasi kita pada upaya peningkatan kualitas learning actors dan learning process yang ada.
Jadi, bagaimana memastikan learning actors dan learning process menjadi prioritas utama? Berikut tiga langkah praktis yang bisa diterapkan:
1. Merancang proses pembelajaran yang menarik, interaktif, dan kontekstual sesuai dengan objektif pembelajaran dan target peserta pembelajaran
2. Memastikan setiap proses pembelajaran mampu memotivasi keterlibatan aktif para peserta serta mendorong peningkatan kapabilitas setiap pengajar/fasilitator yang terlibat di dalamnya
3. Membekali keterampilan yang relevan kepada pengajar/fasilitator untuk mampu menghadirkan proses pembelajaran yang memenuhi kedua poin di atas.
Senang jika kita bisa perluas diskusi ini. Mungkin 2 pertanyaan berikut bisa jadi pematik diskusi kita sama-sama:
- Jika Anda bisa mengubah satu hal dalam program pelatihan di perusahaan Anda, apa yang akan Anda ubah?
- Pernahkah Anda mengalami pelatihan dengan teknologi canggih tetapi tidak berdampak? Kenapa menurut Anda itu hal terjadi?
Rekan-rekan bisa berbagi jawaban, sudut pandang, atau pertanyaan tambahan yang relevan di kolom komentar. Senang kalau bisa lanjut diskusi sama-sama.
Untuk informasi terkait berbagai program learning yang kami kembangkan, silahkan bisa visit/kontak kami via kummara.com
Ref:
1. Alhazmi, Abdulsalam K. et al. “Success and Failure Aspects of LMS in E-Learning Systems.” Int. J. Interact. Mob. Technol. 15 (2021): 133.
2. Merrill, D. (2012). First principles of instruction. Educational Technology Research and Development, 50, 43-59.
3. Kolb, A.Y., & Kolb, D.A. (2022). Experiential Learning Theory as a Guide for Experiential Educators in Higher Education. Experiential Learning and Teaching in Higher Education.
4. Suhartono Wiryopranoto. et al. (2017) “Ki Hajar Dewantara -Pemikiran dan Perjuangannya”. [Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI]