News and Updates

HomeMedia CoverageBermain Bersama Kummara dan Agate di “Ganesha Bermain 2011”

Bermain Bersama Kummara dan Agate di “Ganesha Bermain 2011”

Indonesia Kreatif

Indonesia Kreatif

“Ganesha Bermain 2011” adalah sebuah event bagi para gamer Bandung yang diadakan di Comlabs USDI-ITB pada hari Sabtu 12 Februari 2011. Acara yang bertemakan “The Power of Games” itu dimulai pada jam sembilan pagi dengan presentasi dari komunitas game yang diwakili oleh Kummara dan Agate Studio, juga oleh Bapak Ary Setijadi sebagai ketua Program Studi Media Digital dan Teknologi Game S2 ITB.

Kummara merupakan komunitas board game yang bermarkas di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Mereka bukan sekedar sekumpulan orang yang senang memainkan board game, tapi mereka juga menciptakannya. Untuk itu dalam acara “Ganesha Bermain 2011” ini mereka membawa puluhan papan permainan, termasuk papan permainan yang mereka rancang sendiri.

Salah satu papan permainan yang dirilis oleh Kummara adalah Simpang Dago. Untuk merancang permainan tersebut, Eko Nugroho pendiri Kummara, bahkan harus melakukan riset langsung selama tiga minggu di daerah tersebut. Uniknya dalam permainan tersebut kita bisa memberi nilai makanan, mencari tempat parkir, mengatur lalu lintas, dan masih banyak lagi. Kompleksitas papan permainan karya Kummara ini seolah menggambarkan realitas yang ada. Begitulah kehebatan board game, permainan ini tidak hanya memberikan hiburan tapi juga dapat memberikan berbagai informasi yang berguna.

Eko kemudian menerangkan bahwa board game sendiri mulai berkembang dari Jerman sebagai sarana hiburan yang mudah dan murah setelah negara mereka hancur dalam Perang Dunia ke II. Apapun bisa dibuat board game oleh mereka. “Orang Jerman sudah membuat papan permainan tentang cara berjualan di pulau Sumatra,” terang Eko. Mereka juga membuat board game yang berjudul Batavia, Java, Bali, bahkan board game berjudul Indonesia adalah salah satu papan permainan favorit. Karena itu jika selama ini bermain hanya dianggap kegiatan yang membuang-buang waktu, maka dia beranggapan bahwa pernyataan itu kurang tepat. Bermain bisa menjadi suatu kegiatan yang edukatif, asalkan media permainannya tepat.

Eko kemudian melanjutkan bahwa bermain adalah satu-satunya media yang dapat memberikan curiosity (rasa penasaran), motivation (dorongan), dan challenge (tantangan) di waktu yang bersamaan. Tiga hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan dan sangat sulit dilakukan oleh para pendidik. Tapi dengan bermain hal itu menjadi sangat dimungkinkan.

Untuk itu Eko bersama Kummara memiliki harapan untuk dapat menciptakan berbagai papan permainan yang memiliki nilai edukasi. Selain itu Eko juga berpendapat bahwa bermain sangat penting karena menurutnya bermain itu sama dengan berpikir kreatif.

Thinking out of the box adalah berpikir kreatif. Sekarang kita tidak hanya akan thinking out of the box, tapi hari ini kita akan play with the box,” ajak Eko.

Setelah Eko Nugroho dari Komunitas Kummara giliran, Pak Ary Setijadi yang melakukan presentasi. Pada awalnya DR. Ari mengatakan bahwa tidak jarang orang menganggap remeh Program Studi Media Digital dan Teknologi Game S2 di ITB. Banyak orang mengira game hanyalah kegiatan untuk hiburan semata, padahal menurutnya kita bisa bermain sambil belajar dan sebaliknya, kita bisa belajar sambil bermain.

Hal ini merupakan respon dari realitas pendidikan saat ini yang seringkali membuat murid tertidur karena bosan. Padahal semua itu bisa dibuat menyenangkan jika dikemas dalam sebuah pemainan. Bermain juga bisa membuat murid menjadi lebih engaged (memiliki ikatan yang kuat) dengan pelajaran, ditambah lagi dengan salah satu kekuatan game lainnya, yaitu sifatnya yang addictive (membuat ketagihan). Jika hal itu dimplimentasikan pada dunia pendidikan, maka hal tersebut akan berdampak luar biasa.

Pak Ary kemudian memperkirakan bahwa game di masa depan akan menjadi suatu media yang digarap secara serius dan penting karena game bisa memberikan kita banyak pengalaman jika yang kita mainkan berupa simulasi-simulasi di kehidupan nyata. Ia mencontohkan game seperti simulasi penjualan retail, simulasi manajemen universitas, simulasi menjadi programmer, dan sebagainya.

Giliran terakhir yang melakukan persentasi diwakilkan oleh Aditia Dwiperdana, Chief of Research and Development dari Agate Studio. Agate Studio adalah sebuah game developer company terbesar di Bandung dengan 38 orang pekerja. Di tahun lalu mereka berhasil menyabet penghargaan Teknopreneur Award 2010 dan Indigo Fellowship Awards 2010. Ada lebih dari 60 game yang sudah mereka buat dalam berbagai platform untuk Flash, Silverlight, XNA, online, dan mobile.

Aditia menjelaskan perihal proses pembuatan sebuah game dari awal hingga akhir. Menurutnya ada empat peran yang mutlak dibutuhkan untuk menciptakan sebuah game digital, yaitu desainer, artis, programmer, dan manajer, di mana fungsi dari desainer adalah sebagai perancang permainan secara keseluruhan, artis sebagai seniman yang mewujudkan karakater-karakter dalam permainan, programmer adalah orang yang menciptakan program sehingga apa yang sudah dirancang oleh desainer dan diciptakan oleh artis menjadi dapat dimainkan, kemudian manajer adalah orang yang mengatur jadwal pengaturan waktu, apa dan kapan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Pada dasarnya Aditia menjelaskan bahwa siapa pun sebenarnya bisa menciptakan game, tidak harus semua bisa programming atau berlatar belakang seni untuk menggambar, karena itu dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak. Terakhir, menurutnya yang penting dari sebuah game bukanlah tingkat kerumitan atau estetikanya, tapi justru nilai yang didapat dari suatu permainan tersebut.

Kemudian setelah presentasi selesai dimulailah acara sebenarnya yang sudah ditunggu-tunggu oleh para peserta, yaitu tentu saja bermain. Kummara menempati 3 lokasi yang masing-masing berbeda tipe game-nya. Ada party dan family game yang relatif mudah dengan estimasi durasi permainan 15-60 menit. Ada education game, dan terakhir ada gamers’ game yang durasi permainannya bisa sampai lima jam.

Permainan gamers’ game cenderung merupakan permainan dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, dan memang ditujukan bagi para gamers sejati. Selain itu uniknya lawan main kita bukanlah sesama pemain lain, tapi justru si papan permainannya. Jadi, para pemain bergabung untuk mengalahkan sang papan. Sedangkan permainan digital dari Agate Studio diadakan di dua ruang besar lainnya.

Event “Ganesha Bermain 2011” ini sebenarnya merupakan acara lanjutan dari event Bandung Bermain yang diadakan pada Desember 2010. Dan acara yang semestinya dijadwalkan berakhir pada jam empat sore itupun terus berlanjut karena para gamers Bandung yang hadir masih terus asyik bermain.

Source: Indonesia Kreatif

Written by

The author didnt add any Information to his profile yet

Leave a Comment